Showing posts with label Punca. Show all posts
Showing posts with label Punca. Show all posts

Tuesday, January 15, 2013

Inilah Cara Sel Punca Mengatasi Penyakit

AppId is over the quota

KOMPAS.com - Penasaran dengan mekanisme kerja sel punca mengobati berbagai penyakit? Feng Qi Rong, dokter sekaligus peneliti sel punca dari Modern Hospital Guang Zhou Cina memberikan penjelasannya Kamis (10/1/2013) di Jakarta.

Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan membelah dengan cepat dan belum memiliki fungsi khusus. Sel ini dengan teknik tertentu dapat disisipkan ke dalam jaringan atau organ yang bermasalah untuk dapat "meniru" fungsi dari sel-sel di jaringan atau organ tadi, sehingga organ dapat menjalankan fungsinya dengan normal kembali.

Berikut adalah beberapa jenis penyakit yang dapat diobati dengan sel punca dan mekanismenya yang dipaparkan oleh Feng :

1. Diabetes

Penyakit diabetes yang disebabkan gagalnya pankreas memproduksi insulin dapat diobati dengan sel punca. Penyisipan sel punca di "pulau Langerhans" yang ada di pankreas akan meregenerasi sel-sel pankreas sehingga dapat kembali memproduksi insulin. Insulin yang dihasilkan pun menjadi lebih banyak dan berkualitas.

2. Penyakit liver

Biasanya, penyisipan sel punca untuk penyakit ini memerlukan jumlah yang banyak. Sel punca akan berdiferensiasi menjadi pembuluh-pembuluh darah baru yang dapat memperbaiki fungsi hati.

3. Penyakit sistem saraf

Sel punca akan berperan dalam memperbaharui sel-sel saraf, sehingga lebih baik dalam menghantarkan impuls. Perbaikan ini mengobati penyakit-penyakit saraf seperti Parkinson.

4. Penyakit autoimun

Sel punca akan menekan reproduksi dari sel T dan sel B sehingga akan menormalkan kerja sistem kekebalan tubuh.

5. Penyakit ginjal

Hampir sama dengan penyakit lainnya, sel punca akan berdiferensiasi menjadi sel-sel ginjal. Sehingga sel-sel ginjal yang telah lama dan tidak berfungsi lagi akan tergantikan oleh sel-sel baru ini sehingga fungsi ginjal normal kembali.

6. Penyakit kulit, seperti penyembuhan bekas luka

Sel punca akan menggantikan sel-sel kulit yang telah mati. Menurut Feng, pengobatan konvensional biasanya tidak optimal, sedangkan dengan sel punca akan lebih optimal.

7. Penyakit jantung

Sel-sel otot jantung yang sudah melemah fungsinya akan digantikan oleh sel punca. Selain itu sel punca juga akan menciptakan pembuluh darah baru sehingga aliran darah dari dan ke jantung pun kembali normal.

8. Penurunan berat badan

Obesitas disebabkan oleh tumpukan sel lemak. Sel punca akan meregenerasi sel-sel lemak, sehingga sel-sel lemak yang lama akan terbuang.

Nah, lalu dari mana sel punca yang begitu "ajaib" ini berasal? "Sel punca dapat diambil dari sumsum tulang, jaringan tali pusar, jaringan lemak, dan beberapa organ," ujar Feng.

Namun tidak selamanya sel punca dapat diambil dari tubuh orang yang menjalani terapi sel punca sendiri. "Jika penyakit pasien sudah parah, atau usianya sudah tua sebaiknya sel punca berasal dari donor," jelasnya.

Jika berasal dari orang lain, mungkinkah terjadi efek penolakan? Feng mengatakan, tidak perlu khawatir dengan efek penolakan.  Pada dasarnya sel punca dapat menginduksi toleransi kekebalan tubuh dan memiliki efek imunomodulator yang kuat, sehingga tidak akan terjadi reaksi penolakan. Namun biasanya para ahli medis tetap menguji coba terlebih dahulu sebelum menerapkannya ke tubuh pasien.

Sel Punca Bisa Jadi Solusi Beragam Penyakit

AppId is over the quota

KOMPAS.com - Sel punca atau stem cell adalah jenis sel di dalam tubuh yang sangat aktif membelah dan belum memiliki fungsi khusus. Sel punca dalam dunia kedokteran sebenarnya sudah mulai populer digunakan sejak tahun 1950-an. Namun karena masih terus diteliti dan dikembangkan, pengobatan dengan metode ini belum menjadi andalan terutama di Indonesia, meskipun sangat potensial.

Feng Qi Rong, dokter sekaligus peneliti sel punca dari Modern Hospital Guang Zhou China menyatakan penggunaan sel punca sudah mulai populer, terutama untuk kecantikan dan pengobatan. Menurutnya, sel punca dapat menjadi solusi bagi berbagai jenis penyakit, antara lain diabetes, penyakit liver, saraf, autoimun, ginjal, kulit, jantung, hingga melawan penuaan dan menurunkan berat badan.

"Sel punca adalah sel yang ajaib, ia dapat berubah menjadi sel apa saja, tergantung di mana ia disisipkan," katanya saat acara peluncuran Pusat Penelitian Stem Sel Modern Asia, Kamis (10/1/2013) di Jakarta. .

Sel punca memang sel yang belum mengalami diferensiasi atau belum terdiferensiasi sempurna. Itulah yang membuatnya bisa "beradaptasi" dengan jaringan yang ada di sekitarnya, sehingga akhirnya secara bentuk maupun fungsi menyerupai jaringan di sekitarnya.

Sel punca memiliki dua sumber, tergantung dari jenis apa yang akan diambil. Dua jenis sel punca yaitu sel punca embrionik yang diambil dari embrio dan sel punca dewasa biasanya diambil dari sumsum tulang, jaringan lemak, jaringan tali pusar, serta organ tertentu seperti liver.

Perbedaan dari kedua jenis sel punca ini adalah kemampuannya untuk berdiferensiasi. Sel punca embrionik memiliki kemampuan berdiferensiasi yang lebih beragam daripada sel punca dewasa, sehingga lebih fleksibel untuk disisipkan di berbagai jaringan dan organ.

Sedangkan sel punca dewasa terdiferensiasi dengan lebih spesifik. Prosedur penggunaan sel punca yang paling banyak digunakan adalah dengan transplantasi, yaitu dengan mengambil sel punca dari jaringan atau organ kemudian diinjeksikan melalui pembuluh arteri ke organ sasaran. Selama ini menurut Feng, belum banyak diungkap tentang risiko dari penggunaan sel punca untuk pengobatan.

Wang Rong Hua, yang juga rekan Feng di Modern Hospital juga mendukung pernyataan ini. "Risiko dari penggunaan sel punca hampir tidak ada. Hanya saja, ada yang hasilnya sangat minimal, sisanya hampir 95 persen berhasil," ujar Wang pada kesempatan yang sama.

Pengobatan dengan sel punca selain keberhasilannya yang cukup tinggi, tambah Feng, waktu pengobatan pun relatif singkat.

"Ada dua faktor yang mempengaruhi waktu pengobatan, tingkat keparahan pasien saat mulai menjalani pengobatan, dan lamanya sel punca berdiferensiasi, karena kemampuannya berbeda pada setiap pasien," ujarnya.